Srikandi-srikandi Perkasa

Takjub, senang, .. “waah..”, kagum. Itu yang saya rasakan ketika bersama srikandi-srikandi perkasa itu. Mereka memang bukan siapa2. Bukan srikandi nasional seperti Sri Mulyani. Namun bagi saya, tetep mereka istimewa, karena kerja kerasnya, dan saya senang berada bersama mereka, meneladani sikap-sikap mereka. Awal tahun ini saya dipindah ke kelompok pengajian yang baru. Hm.. kenapa dipindah ya? Toh saya udah nyaman dengan kelompok pengajian yang saya ikuti. Di kelompok yang baru, tempatnya jauh (35 km perjalanan), acaranya pagi2 sekali, dan rata2 mereka juga ibu2 yang jauh lebih tua dari saya. Anyway, demi menuntut ilmu, saya tetap tekadkan akan mengaji di tempat yang baru.

Walaupun mereka ibu2 yang memiliki anak 2, 3, bahkan 4, rata2 mereka tidak membawa anak kalau datang ke pengajian, sehingga saat pengajian mereka bisa fokus menyimak ceramah dari murobbiyah dan bebas mengemukakan pendapat, tanpa harus disibukkan dengan anak. Saya sendiri, sampe minta excuse untuk bawa Affan tiap kali pengajian, karena pasti Affan kangen sama bundanya kan kalo weekend karena hari kerja ikut daycare. Kata murobbiyah, boleh saja anak dibawa, asal tetap fokus dalam mencari ilmu. Point yang bagus menurut saya, karena kadang2 kita yang dah punya baby selalu mengandalkan baby untuk excuse dari segala sesuatu: gak ikut pengajian, gak ke majlis ilmu, lambat dalam menghafal quran, ngga mau olahraga, etc.. etc..

Baru di kelompok ini saya merasa mereka, ibu2 yang beranak 2, 3, atau 4 itu, ada juga yang master dan PhD student, researcher, ada yang di rumah, ada buka usaha ini itu, tanpa pembantu rumah tangga tentunya karena di LN, tidak merasa bahwa keluarga, suami, dan kerjaan rumah tangga menjadi beban dalam menuntut ilmu dan berdakwah. Di kelompok ini pula, saya merasa mendapat peluang kembali untuk meraih cinta Allah dan Rasul dengan kembali menghafal quran, berbuat baik, dan mulai dari hal2 kecil lainnya.. Karena murobiyyah selalu mengingatkan, mudah2an dengan beramal sholeh kita ada di barisan Rasul di hari akhir nanti..

Puncaknya ada ketika kami akan mengadakan pengajian muslimah gabungan se-Victoria. Kalau saya dulu mengadakan acara waktu sma atau kuliah, tentu tidak sulit untuk dilaksanakan. Tapi ketika ibu rumah tangga yang disuruh jadi panitia, prediksi saya ternyata jauh dugaan awal. Respon mereka sangat cepat, menu konsumsi sangat mewah (dalam arti standar tinggi) , dan dibuat oleh ibu2 yang sibuk. Begitu juga dengan persiapan2 yang lain seperti persiapan acara2 anak2, pembuatan leaflet dan kenang2an peserta. Sangat produktif! Dan kualitasnya bisa saya bilang ngga kalah dengan kerja mahasiswa S1 atau sma yang jadi aktifis dakwah.

Dari acara ini, saya belajar.. menjadi ibu dengan segala tugas kerumahtanggaannya, jangan menjadi excuse kita untuk menutup diri dari lingkungan. Shahabiyah di jaman Rasul tetap beraktivitas untuk masyarakat. Perempuan-perempuan di Palestina tetap menghafal quran selain menjadi dokter, engineer, atau yang lainnya. Saya bangga berada bersama mereka2 ini,walau artinya saya harus lebih bekerja keras agar seimbang atau kuliah dan research, kerumahtanggaan, dan berkontribusi bagi masyarakat sekitar. Saya senang karena kelompok pengajian sma dan kuliah yang selama ini saya agung2kan karena totalitas teman pengajian dahulu, ternyata saya mendapati ruh “totalitas dan bergerak” yang sama di kelompok pengajian ibu2 ini. Walau bergerak artinya mengajar anak2 kecil membaca quran, mengajar ibu2 lain untuk melancarkan bacaan quran, atau memasak dengan enak.

Untuk semua saudari2ku, uhibbuki fillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s