It is Her

Semua itu bermula ketika e-mail teman saya bertuliskan nama yang sangat saya kenal. Lalu saya tanya pada teman saya? Itu nama siapa? Dia bilang itu nama ayahnya. Ooo… ternyata, ayah teman saya itu adalah atasan mamah di kantor, seorang peneliti utama di lembaga penelitian ternama di Bandung. Kemudian, beberapa lama kemudian, saya bertemu dengan orang tua teman saya itu. Ayah ibunya adalah profesor. Ayahnya seorang peneliti utama, ibunya adalah mantan wakil rektor institusi terkenal di bandung dan juga ketua research group di universitas tersebut. Saya berkenalan dengan beliau2, saya sangat menghormatinya..

Pikiran saya lalu mengawang-awang ke masa kecil saya. Cerita yang diceritakan mamah kepada saya. Mamah saya cerita, dia adalah siswi yang cukup berprestasi dan sering ranking 5 besar di kelas. Dia bersekolah di analis kimia ITB, seperti sma kejuruan kimia. Sayangnya tidak dilanjutkan ke universitas karena alasan ekonomi.

Beliau bekerja sebagai analis kimia di sebuah lembaga penelitian, namun kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi bidang administrasi 10 tahun kemudian dan diwisuda ketika sudah punya 3 anak. Beliau bekerja di bidang administrasi/perpustakan/public relation. Sementara itu teman-temannya ada yang menjadi dosen itb, manajer perusahan multinasional, dll. Tapi, tidak henti2nya mamah selalu bercerita para peneliti di lembaga penelitian itu, yang juga teman2nya. mamah bercerita bagaimana mereka kuliah S3 di luar negeri, menjadi peneliti, menghadiri konferensi international, dll. Lambat laun, semua cerita-cerita itu, bahkan saya juga berkenalan dengan teman2 mamah, sepertinya mendarah daging di dalam fikiran dan tubuh saya.

Mungkin itulah mengapa saya belajar sangat giat, memberi tahu semua nilai2 ulangan di skolah waktu smp dan sma, masuk itb, memberi tahu ip yang baik padanya. Untuk les bahasa inggris dan biaya kuliah, uang berapapun beliau usahakan.. saya masih ingat dulu dalam satu tahun, saya ikut les di 3 tempat dengan biaya yang cukup mahal, tapi tetap dibayar mamah demi cita-cita saya.

Ketika saya bercerita pada mamah di telepon tentang pertemuan saya dengan atasannya itu, saya tahu mata mamah berbinar-binar bahagia, dan saya tahu betapa teman2 peneliti di kantor mamah juga menaruh respek padanya karena bisa membesarkan anak seperti saya.

Dan saya pun sudah tahu siapa nama pertama yang akan saya tulis di halaman depan cover tesis saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s