2014: Refleksi Menjadi Akademisi

Akhir tahun. Sudah satu setengah tahun lebih saya tinggal di Bandung dan menjadi akademisi di salah satu perguruan tinggi negeri di kota ini. Tampaknya pattern/pola pekerjaan ini akan berulang setiap tahun, sehingga perlu ada strategi tersendiri agar bisa menjalani pekerjaan ini dengan sebaik-baiknya.

Tentu saja kadang saya kangen dengan suasana akademisi di Australia, yang tentunya cukup berbeda dengan di Indonesia. Di Indonesia, beban mengajar cukup, bahkan bisa dikatakan berat. Selain mengajar 3 – 4 mata kuliah, yang alhamdulillah-nya bisa di-tandem-kan dengan dosen lain, ada tambahan dengan pembicaraan/pertemuan dengan mahasiswa tingkat tiga terkait persiapan dan evaluasi pelaksanaan Laboratorium Instruksional, bimbingan Kerja Praktek, bimbingan Rancang Pabrik, dan bimbingan Penelitian. Belum lagi ada hal-hal lain terkait konsultasi mahasiswa tentang lomba atau kompetisi. Tentunya memang ini merupakan tugas utama akademisi, menjadi pendidik. Saya tetap harus selalu melakukan continuous improvement agar pola pengajaran dan pendidikan akan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu; tentunya juga saya banyak belajar, baik dari belajar dan mengajarkan bahan kuliah, dan juga belajar dari mahasiswa tentang feedback yang mereka berikan.

Terkait penelitian dan skema pendanaan, tampaknya hal ini yang harus pintar-pintar mensiasati. Sebagai dosen baru, yang belum punya dana penelitian sendiri, harus pintar-pintar mencari celah agar penelitian bisa tetap berjalan. Alhamdulillah, dengan berkolaborasi dengan dosen senior, yang ternyata punya alat utama penelitian (misalnya tungku horizontal/horizontal furnace), penelitian mahasiswa S1 bisa berjalan dengan baik. Di Program Studi sendiri juga ada beberapa alat penelitian pendukung yang bisa digunakan, sehingga lumayan bisa berjalan dengan baik. Selain itu, kerja sama dengan instansi lain, seperti BPPT, LIPI, industri lain sudah mulai ada walau baru penjajakan, mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik. Sekarang harus pintar membagi dan menyisihkan waktu dan fikiran untuk menulis paper-paper terkait penelitian. Karena saking sibuknya dengan kegiatan di kantor, waktu untuk menulis paper jadi tidak ada. Selain itu juga seringkali deadline pemasukan proposal penelitian juga hanya satu dua minggu sebelumnya, sehingga sering banget jadi deadliners. Belajar dari tahun 2014, berarti harus sudah tahu kapan saja perkiraan pemasukan proposal-proposal, sehingga saya bisa menyiapkan dengan lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s