Toddler — Learning to Talk

Bismillahirrahmanirrahiim.

Kemaren di salah satu diskusi online, ada bahasan tentang toddler/batita yang telat bicara. Saya jadi teringat dengan pengalaman saya dengan Affan. Affan dulu sempat didiagnosa speech delay (telat bicara). Mudah2an dengan saya bercerita ini, teman-teman yang membaca bisa mendapat gambaran dan cara menanganinya. Semakin dini semakin baik.

Pada bulan September 2009, Affan menjalani check up 18 bulan di Maternal & Child Health Centre di dekat rumah. Saat itu saya sedang ikut conference di Perth, jadi suami yang mengantarkan Affan. Affan sudah mulai bisa bicara pada umur 15 bulan, tapi sampai 18 bulan baru hanya “ini”, “itu”, “ayah”, “mooo (sapi)”. Nurse di Maternal & Child Health Centre bilang kalo 18 bulan mesti minimal 6 – 10 kata berbeda. Jadi Affan di refer ke Dokter anak dan Audiologist. Bisa jadi ada masalah di hearingnya yang membuat dia delay. Saat itu karena saya hanya dikabari suami lewat telpon, perasaan saya kacau dan sedih. Selama ini Affan baik-baik saja, kok didiagnosa seperti itu, kata saya dalam hati. Sebulan kemudian, saya bertemu lagi dengan Nurse di Maternal Child Health Centre. Ternyata, bagus juga apa yang dilakukan beliau. Beliau merefer Affan sedini mungkin, agar cepat dapat tindak lanjut. Kalaupun misalnya pas 2 tahun Affan ngomongnya makin banyak, tinggal dibatalkan saja. Memang di Melbourne, ada jangka waktu tertentu kalo mau ke dokter spesialis. Akhirnya kami dapat appointment ke audiologist Royal Children Hospital. Di tempat itu, Affan dites macam2 suara mulai dari yang keras sampai yang kecil dan lembut banget. Alhamdulillah, dari hasil tes, Affan normal. Audiologist bilang, mostly problem anak2 yang telat ngomong karena ada masalah di hearingnya. Kalau begitu, untuk Affan, mungkin karena hal lain.

Pada bulan Desember 2009, ada appointment dari Paeditrician (dokter anak). Lagi2 saya tidak bisa menghadiri karena ada meeting dengan supervisor. Untungnya setelah meeting selesai, saya bisa berkonsultasi lewat telepon dengan dokter anak. Menurut observasi beliau, kuncinya ada pada kemampuan Affan menerjemahkan apa yang dia ingin katakan, dan mungkin otot2 mulut, tenggorokan, dll yang membantu bicara mesti sering dilatih, tentunya dengan bantuan orang tua. Kemudian beliau menawarkan program dari speech pathologist, ada 10 sesi pertemuan tiap minggu untuk membantu melancarkan bicara. Tentu saja saya mau. Walaupun saya mesti bolos sebentar dari kampus, tentunya akan membantu Affan bicara lebih baik. Saat itu Affan sudah bisa sekitar 10 kata. Semua binatang hanya bisa bilang suaranya aja, misalnya Anjing jadi woof woof, sapi jadi moo, domba jadi baa baba, ayam jadi kukuk. Tapi awal yang baik, menurut saya.

Pada bulan februari dan maret, kami ikut program dari Speech Therapy itu, namanya Twinkle Twinkle Little Star Playgroup. Ada sekitar 10 toddler dan ayah/ibunya. Dalam satu jam, anak2 bermain, lalu bernyanyi bersama instrukturnya, makan snack sambil instruktur bercerita pada orang tua, lalu ada sesi story telling. Dari playgroup ini, saya belajar banyak hal:

–          Orang tua mesti lebih mendengarkan apa yang ingin dikatakan anaknya. Kadang kita ngga mau listening. Trus coba memberi pilihan pada anak. Misal: affan mau apel atau jeruk? Nanti dia akan bilang apel, atau jeruk. Beda halnya kalo kita hanya bilang Affan mau ini? Dia hanya akan mengambilnya aja.

–          Jangan bosen menamakan semua barang/sesuatu di depan Affan. Ngga apa apa di sebuh cerewet juga. Saat di mobil, namakan semua yang dilihat, kayak mobil merah, jembatan, ada lampu merah, dll. Saat makan di rumah, namakan piring, garpu, sendok, makan, minum, etc. Seems silly sih, tapi ternyata ngaruh juga.

–          Saat ngomong sama anak, jangan cepat2. Ngomongnya mesti 3 kata – 4 kata aja dalam satu kalimat, biar ngga pusing.

–          Baca banyak buku sama anak. Biasanya saya pinjem buku banyak dari library, yang ada gambar2nya. Sebelum tidur biasanya kit abaca 2-3 buku. Awalnya saya ceritakan semua nama gambar yang ada di dalam buku, lama2 Affan mulai tau sendiri dan dia yang bilang.

–          Record setiap kata baru di buku. Kadang2 saya suka merekam suara Affan pake handphone (recording), trus diulang2, jadi Affan suka ketawa dan tau kalo dia udah bisa bilang kata itu.

Nah, apa sih pengaruhnya telat bicara? Mungkin seems fine2 aja toh. Ternyata, dengan anak bisa bicara, Affan bisa berkomunikasi dengan kita sebagai orang tua. Mungkin saat baby dengan nangis aja cukup, tinggal kita kasi susu, atau digendong. Kalo sudah toddler ternyata beda lagi. Toddler ternyata keinginannya jauh lebih banyak. Saat Affan belum banyak ngomong, kalo dia ingin sesuatu dia cuman tarik2 saya aja dari dapur, trus nunjuk2 mainan. Saya sampe harus ambil beberapa mainan sampai tau mana yang lebih tepat. Saat Affan udah bisa bicara, Affan jadi cuman bilang, “Buba, buka tuain (Bunda, buka kotak trainnya), jadi lebih memudahkan saya. Memudahkan Affan juga karena dia jadi ngga frustasi.

Nah, terkait bicara dua bahasa, seperti Affan, Speech pathologist-nya Affan bilang, lebih baik ajarkan bahasa ibu dulu, yaitu bahasa Indonesia. Karena itu lebih penting. Kalo bahasa inggris dia bisa belajar di childcarenya, dari tivi, dari teman2 sepermainan. Untuk saya sendiri, saya tetap bicara bahasa Indonesia. Kecuali kalo sedang baca buku2, untuk bahasa2 yang biasa diucapkan di sekolah, saya bilang dua-duanya. Misalnya Affan ada fish – ikan.. Sekarang karena dia di childcare setiap hari, dia sering sekali bicara bahasa inggris, tapi saya ulangi/repeat dengan bahasa Indonesia. Lama2, Affan jadi tau sendiri kata bahasa inggris dan Indonesianya..

Saat ini Affan masih rutin pergi ke speech pathologist untuk memantau perkembangannya dan juga merefresh kami sebagai orang tua untuk tetap membantu Affan mengimprove bicaranya. Saat 2.5 tahun, Affan bisa sekitar 200 kata, tapi yang bisa diucapkan masih 100-an kata. Affan bisa bikin kalimat 2 -3 kata. Pengucapanannya masih sekitar yang paling gampang diucapkan: bunda jadi buba, bebek jadi bebep, affan jadi afam, etc. Affan dah hafal cukup banyak lagu bahasa Indonesia, lebih banyak lagi nursery rhymes (english) yang diajarkan di sekolah. Paling hafal doa sebelum tidur, sedikit surat Qulhuwalloh dan AnNaas.

Dari pengalaman saya selama setahun terakhir, cari bantuan sedini mungkin saat anak umur 18 bulan belum bisa ngomong. Ini hanya untuk preventif aja. Sebagai gambaran, Affan dari 18 ke 22 bulan cuman nambah 10-15 kata aja, tapi dari 22 bulan sampe sekarang udah ngga keitung. Melatih anak berbicara akan memudahkan komunikasi kita dengan anak dan bisa mengetahui perasaan anak (misalnya Affan sad or happy? Dia bilang happy. Kalo abis nangis dia bilang sad). Mudah2an cerita saya ini memberikan gambaran dan bisa membantu ibu2 semua yah.

Tambahan, ini parent’s handout yang saya dapet dari Speech Pathology Playgroup:

3 thoughts on “Toddler — Learning to Talk

  1. makasih mbak ceritanya, anakku cowok jugak 14 bulan mulai ngomong papa, baba for mama *hiks, ampu for lampu, ate for ac, pu for mpus/kucing, aci for trimakasih, lucuuuu yaa denger kata2 pertamanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s